Jenis kelamin gender seorang individu sangat mempunyai faktor yang penting dalam pengungkapan diri.

Too Tired? Too Anxious? Need More Time? We’ve got your back.

Submit Your Instructions

TEORI SELF DISCLOSURE
Pengertian Self Disclosure
Self Disclouser adalah pengungkapan reaksi atau tanggapan individu terhadap situasi yang sedang dihadapinya serta memberikan informasi tentang masa lalu yang relevan atau berguna untuk memahami tanggapan individu tersebut (Johson, dalam Supratiknya, 1995). Menurut Morton (dalam Baron, dkk,. 1994) self disclosure adalah kegiatan membagi perasaan dan informasi yang akrab dengan orang lain. Jadi dapat disimpulkan bahwa self disclosure adalah bentuk komunikasi interpersonal yang didalamnya terdapat pengungkapan ide, perasaan, fantasi, informasi mengenai diri sendiri yang bersifat rahasia dan belum perna diungkapkan kepada orang lain secara jujur. Jourard mengartikan self disclosure sebagai tindakan baik secara verbal maupun non verbal, mengungkapkan aspek-aspek dari diri kepada orang lain.
Dengan kata lain, keterbukaan diri adalah menyampaikan informasi baik secara verbal atau non verbal, lisan maupun tulisan tentang keunikan diri pribadi seseorang. Raven & Rubin menyatakan dalam proses pengungkapan diri nampaknya individu-individu yang terlibat memiliki kecenderungan mengikuti norma resiprok (timbal balik). Bila seseorang menceritakan sesuatu yang bersifat pribadi, maka akan cenderung memberikan reaksi yang sepadan. Pada umumnya mengharapkan orang lain memperlakukan sama seperti memperlakukan mereka.
Dwyer mengatakan pengungkapan diri adalah proses bertahap: orang biasanya tidak mengungkapkan terdalam mereka dan perasaan pada pertemuan pertama. Hal itu juga merupakan proses kedua belah pihak bertukar fakta intim dan perasaan satu sama lain jika seseorang menyimpan sesuatu, maka pengungkapan berhenti.
Fisher berpendapat bahwa informasi yang diungkapkan tanpa sengaja, atau karena kesalahan adalah relevansinya diri daripada pengungkapan diri. Pengungkapan diri adalah jenis komunikasi di mana kita mengungkapkan informasi tentang diri sendiri yang biasanya disembunyikan, hal ini merupakan tipe khusus dari percakapan dimana seseorang berbagi informasi dan perasaan pribadi dengan orang lain.
Beberapa penelitian tentang pengungkapan diri ini cenderung menggunakan penjelasan-penjelasan psikologis disertai sifat-sifat psikologis. Contoh, dua sifat pengungkapan diri yang populer adalah jumlah dan valensi. Jumlah disini mengacu pada seberapa banyak informasi tentang diri yang terungkapkan. Sedangkan, valensi lebih kepada pandangan mengenai informasi yang disampaikan, mengarah ke positif atau negatif. Dimensi self disclosure terdiri dari hal-hal sebagai berikut:
a. Ukuran, dilihat dari frekuensi dan durasinya
b. Valensi, kecenderungan ungkapan positif atau negatif
c. Kecermatan dan kejujuran.
Menurut Devito (dalam Ningsih, 2015) dimensi yang ada pada self disclosure ini dibagi menjadi 5 bagian:
a. Ukuran atau jumlah self disclosure Ukuran self disclosure didapat dari frekuensi seseorang melakukan self disclosure dan durasi pesan-pesan yang bersifat self disclosure atau waktu yang diperlukan untuk menyatakan pengungkapan diri tersebut. Dalam hal ini, self disclosure tidak terbatas oleh waktu selama individu tersebut terakses dengan aktivitas internet dan melakukan self disclosure dalam media sosial saat individu tersebut merasa hal atau kejadian yang tengah dialaminya patut untuk diungkapkan.
b. Valensi self disclosure Valensi lebih menilik pada pengungkapan tersebut cenderung positif atau negatif. Individu tentu saja dapat mengungkapkan dengan baik dan membahagiakan (positif), atau juga dengan mengungkapkan tidak baik dan tidak menyenangkan (negatif), masing-masing kualitas baik positif atau negatif tentu saja akan menimbulkan dampak yang berbeda, baik bagi yang mengungkapkan maupun bagi para individu yang menerima/mendengarkannya.
c. Kecermatan dan kejujuran Dalam konteks kecermatan dan kejujuran self disclosure akan dibatasi oleh seberapa jauh individu tersebut mengenal dirinya. Selanjutnya semua itu (self disclosure) akan bergantung pada kejujuran individu. Individu bisa saja jujur sejujur-jujurnya, atau bisa saja melebih-lebihkan, bahkan bisa saja berbohong. Dalam hal ini, mengenal diri sendiri tentunya berkaitan dengan konsep diri (self concept) individu. Pada penelitian ini akan lebih difokuskan pada self disclosure yang terjadi. Apakah pengungkapan diri individu tersebut jujur total, berlebihan, atau tidak sesuai fakta/berbohong
d. Tujuan dan maksud Dalam aktivitas self disclosure individu tentunya dengan sadar mengetahui apa yang ditujukan untuk diungkapkan sehingga individu tersebut dapat mengontrol pengungkapan dirinya. Terkait penyingkapan perasaan terkadang seorang individu berpikir secara spontan, dapat melibatkan perasaan yang terkadang out of control (tak terkontrol). Untuk itu, akan diteliti lebih lanjut mengenai tujuan dan maksud dalam penyingkapan self disclosure dalam media sosial.
e. Keintiman Individu dalam pengungkapan diri dapat memetakkan hal-hal yang intim pada kehidupannya atau hal-hal yang dianggap feriferal atau impersonal (tidak bersifat pribadi) atau hal-hal yang terletak diantara feriferal atau impersonal.
Pengungkapan diri yang dilakukan secara tepat merupakan indikasi dari kesehatan mental seseorang. Dimana salah satu aspek penting dalam keterampilan sosial adalah pengungkapan diri. Pengungkapan diri haruslah dilandasi dengan kejujuran dan keterbukaan dalam memberikan informasi, atau dengan kata lain apa yang disampaikan kepada orang lain hendaklah bukan merupakan suatu topeng pribadi atau kebohongan belaka sehingga hanya menampilkan sisi yang baik saja. Pengungkapan diri dapat bersifat deskriptif maupun evaluatif. Pengungkapan diri deskriptif yaitu seseorang melukiskan berbagai fakta mengenai dirinya yang mungkin belum diketahui oleh pendengar, seperti pekerjaan, tempat tinggal, dan sebagainya. Pengungkapan diri evaluatif yaitu seseorang mengemukakan pendapat atau perasaan pribadinya, seperti perasaannya menyukai orang-orang tertentu, merasa cemas karena terlalu gemuk, tidak suka bangun pagi, dan sebagainya.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Self Disclosure Menurut Devito (dalam Fajar, 2015) menjelaskan beberapa faktor-faktor yang mempengaruhi self disclosure, sebagai berikut:
a. Besar kelompok Suatu pengungkapan diri atau self disclosure jauh lebih banyak terjadi didalam kelompok kecil daripada dalam kelompok besar. Dengan jumlah pendengar yang lebih sedikit, pengungkapan diri yang dilakukan akan cenderung lebih efektif. Individu yang mengungkapkan diri pun dapat meresapi respon para pendengar lebih cermat dibandingkan dengan dua pendengar atau lebih.
b. Perasaan menyukai Pengungkapan diri sebenarnya berdasarkan juga pada kesukaan atau kecintaan terhadap individu lain. Jika menyukai, seseorang akan dengan senang hati melakukan self disclosure. Tetapi jika tidak, cenderung untuk menutup diri. Hal tersebut disebabkan individu yang kita sukai atau cintai akan besar kemungkinan memberikan dukungan atau saran yang positif.
c. Efek diadik Proses pengungkapan diri akan jauh lebih aman dan nyaman ketika masing-masing individu secara bersama-sama atau bergantian melakukan self disclosure. Selain itu, dapat juga memperkuat pengungkapan diri seorang individu.
d. Kompeten Faktor kompeten lebih melihat ke pengalaman masing-masing individu. Individu yang memiliki pengalaman lebih banyak, cenderung untuk lebih sering melakukan pengungkapan diri ketimbang yang hanya mempunyai sedikit pengalaman. Alasannya, kepercayaan diri yang lebih besar tentu dimiliki oleh orang yang lebih kompeten.
e. Kepribadian Individu yang mudah untuk bergaul akan melakukan pengungkapan diri yang lebih sering daripada individu yang kesulitan atau tidak pandai dalam bergaul.
f. Topik Seorang individu tentu lebih tertarik untuk mengungkapkan dirinya mengenai topik-topik yang positif daripada yang negatif. Self disclosure akan semakin kecil kemungkinan terjadi/terlaksana ketika topik yang dibahas adalah topik yang pribadi dan negatif.
g. Jenis kelamin Gender seorang individu sangat mempunyai faktor yang penting dalam pengungkapan diri. Pria pada umumnya kurang terbuka jika dibandingkan dengan wanita.
Bahaya Self Disclosure
Suatu proses komunikasi apalagi yang berhubungan dengan penyampaian pesan sebenarnya pasti memiliki akibat-akibat didalamnya. Menurut Devito (dalam Pamuncak, 2011) ada banyak manfaat dalam proses pengungkapan diri yang bisa saja membuat kita buta akan resiko-resikonya. Berikut disebutkan beberapa bahayanya pengungkapan diri:
a. Penolakan pribadi dan sosial Pengungkapan diri biasanya dilakukan kepada orang-orang yang telah individu percayai. Seseorang melakukan pengungkapan diri pasti merasa bahwa individu lain akan memberikan dukungan pada pengungkapan dirinya. Tetapi, akan ada penolakan secara pribadi jika pengungkapan dirinya tidak disukai atau bertentangan dengan individu lain tersebut.
b. Kerugian material Ada saatnya dimana pengungkapan diri atau self disclosure dapat mengakibatkan kerugian material. Sebagai contoh, politisi yang pernah memiliki riwayat dirawat oleh psikiater mungkin akan kehilangan dukungan dari partai politiknya sendiri dan masyarakat pun enggan untuk memberikan suara terhadapnya.
c. Kesulitan intrapribadi Kesulitan intrapribadi dapat terjadi ketika individu tidak mengekspektasikan reaksi yang akan diterimanya. Bila mendapati penolakan, tidak ada dukungan, dan rekan-rekan terdekat justru menghindar, maka saat itu juga seorang individu sedang berada dalam kesulitan intrapribadi.
Masing-masing individu harus memiliki kemampuan untuk mengambil keputusan terkait pengungkapan diri. Hal ini dikarenakan setiap individu tentu mempunyai tujuan dan maksud yang berbeda-beda dalam pengungkapan diri. Devito (dalam Ningsih, 2015) memberikan pedoman dalam self disclosure seperti berikut:
a. Motivasi pengungkapan diri Tentunya dibalik sebuah pengungkapan diri seorang individu, ada motif yang terkandung didalamnya. Seperti halnya rasa berkepentingan terhadap hubungan, terhadap individu-individu yang terlibat, dan terhadap dirinya sendiri. Self disclosure sejatinya harus bermanfaat terhadap individu lain dan semakin membuatnya produktif dalam melakukan sesuatu.
b. Kepatutan pengungkapan diri Sebelum melakukan pengungkapan diri, individu harus cermat mengamati kondisi lingkungan (konteks) dan jarak proximity antara pembicara dan pendengar. Jika hubungan yang terjalin sudah sangat dekat, pada umumnya topik yang dibahas akan semakin bersifat pribadi.

Too Tired? Too Anxious? Need More Time? We’ve got your back.

Submit Your Instructions

Published
Categorized as Other

Leave a comment